Oleh: desioktoriana | 20 Oktober 2011

Hari ini………

Aku merasa biasa saja hampir setiap waktu
merasa amat bahagia kadang kala
merasa sedih sesekali
gundah gulana beberapa tahun yang lalu
menderita dulu sekali
merasakan sakit beberapa jam yang lalu
senyum dan tawa ada di tiap hari
tangisan cukup lama tak ada air mata
merasakan cinta saat tertentu
mendapatkan cinta berharap setiap waktu
kebencian sedikit sekali kurasa
kecewa jarang terjadi
marah 10 menit yang lalu
tertipu cukup satu kali saja
menipu tak kan pernah
berfikir tentang kehidupan beberapa saat yang lalu
merasa hidup begitu singkat
kematian adalah saat yang pasti
berfikir tentang kematian acap kali
berharap keselamatan disetiap waktu
berharap ampunan-Nya di hari yang kekal
berkurang jatah umurku hari ini …..

Oleh: desioktoriana | 18 Agustus 2011

Hari Kemerdekaan di Bulan Ramadhan

Pada tanggal 14 Agustus 2011,  3 hari yang lalu saya bersama anak-anak pergi ke sebuah supermarket yang tidak terlalu jauh dari rumah. Rencananya hanya untuk membeli baju titipan dari orang tua untuk kerabat mereka.

Suasana di supermarket cukup padat, banyak sekali pembeli yang bertransaksi ataupun yang sekadar melihat-lihat produk yang dijual. Seperti biasa, anak-anak bosan jika menunggu berbelanja akhirnya kami menuju tingkat paling atas yang tersedia permainan untuk anak serta stan makanan dan minuman (food court).

makan siang (gambar hanya illustrasi)

Yang membuat saya sempat menggelengkan kepala ketika sampai di lantai atas, persis setelah kaki ini melangkah dari eskalator, tak disangka pandangan ini terarah pada sebuah keluarga yang sedang menikmati santapan makan siang (13.30). Seorang ibu dan anak  serta suaminya sedang menyantap fast food. Jika bukan terjadi pada hari ini, misalnya bulan depan, hal ini tidak akan membuat saya terheran-heran.

Hari itu masih 14 Ramadhan, artinya, ibu yang saya lihat mengenakan jilbab itu sedang menyantap makanan berarti tidak berpuasa, taruhlah saat itu dia sedang berhalangan dan anaknya masih kecil butuh makanan…. bagaimana pula dengan suaminya? apa mungkin udzur/ sakit (padahal sanggup jalan-jalan). Padahal tidak ada alasan bagi suaminya untuk tidak shaum bagi laki-laki  kecuali karena tiga hal: sakit, belum baligh atau gila/ kurang waras.

Saya masih berharap dugaan saya salah, mungkin saja itu bukan suaminya tetapi tetangganya yang bukan muslim yang menemaninya jalan-jalan, tapi tetap saja membuat hati ini miris….sepertinya, penghormatan terhadap bulan Ramadhan semakin pudar.

Banyak juga wanita-wanita berjilbab yang makan dan minum dengan santai di tempat terbuka tanpa rasa malu demikian juga beberapa laki-laki muslim yang saya kenal sempat saya temui sebelum berangkat ke supermarket sedang makan dan minum di warung makanan.

Memang betul beberapa hari lagi Bangsa ini akan merayakan kemerdekaannya, Tetapi benarkah seperti ini memaknai kemerdekaan, merdeka untuk melakukan apa saja yang dikendaki? Bukankah merdekanya seorang muslim adalah ketika Allah memberikan ampunannya karena telah sebulan penuh melaksanakan shaum serta amalan dan ibadah lain yang menyertai.

Semata-mata saya menuliskan ini adalah untuk menunjukkan bahwa hati ini sangat terluka, malu dan juga khawatir akan azab Allah yang akan ditimpakan secara merata (baik kepada yang dimurkai ataupun tidak) akibat dari dosa-dosa yang dibiarkan merajalela, kemungkaran yang dilakukan tanpa ada yang mau mencegah.

Ya Allah…. janganlah Engkau murkai kami atas kelalaian kami,

Ya Allah…. janganlah Engkau mengazab kami karena keburukan dan dosa-dosa kami,

Ya Allah Yang Maha Pengampun…

Ampunilah kami.

Oleh: desioktoriana | 17 Agustus 2010

Antara Upin Ipin, RI dan Malaysia

Bila seseorang bilang “Malaysia” yang terbayang dibenak adalah film kartun “Upin Ipin”  yang saat ini sedang merajai per-film-an anak Indonesia. “Betul…. betul…. betul…” adalah salah satu kalimat yang paling akrab ditelinga anak Indonesia bahkan kalangan muda dan tua saat ini.

Upin  & Ipin

Film kartun buatan Malaysia ini memang sangat digemari, anak saya yang baru berumur dua tahun saja bila kebetulan sedang menyaksikan tayangan “Upin Ipin” yang ditonton oleh kakaknya mau ikutan menyimak tanyangan tersebut dengan cukup antusias.

Memang seakan-akan Film “Upin Ipin” ini menjadi gambaran yang pas bagi kehidupan rakyat Malaysia yang hampir mirip dengan kehidupan rakyat Indonesia. Kehangatan antar adik dan kakak, antar tetangga, antar teman tergambar begitu jelas dan tulus.

Sayangnya kenyataan keeratan hubungan bangsa yang serumpun ini berkata lain. Akhir-akhir ini media massa sering sekali menayangkan perseteruan antar RI dan Malaysia dari berbagai permasalahan. Dari mulai perseteruan penjiplakan budaya, perebutan batas wilayah sampai perlakuan terhadap TKI oleh pemerintah Malaysia.

Saya berharap bahwa anak-anak kita cukuplah mengenal Malaysia seperti tokoh-tokoh Upin dan Ipin yang polos, riang, tanpa beban, penuh dengan kehangatan, penuh ungkapan unik yang menggelitik ditelinga. Upin dan Ipin yang dikelilingi oleh orang-orang yang menyayangi mereka seperti kakak perempuan, opa dan Datuk serta kawan-kawan dari berbagai suku bangsa (China, India, dll).

Yang sangat jelas tergambar dari Film “Upin Ipin” adalah kehidupan keagamaan yang berdasarkan syariat Islam sangat kentara, seperti pada judul film di bawah ini:

Upin & Ipin (2007)
1. Esok puasa
2. Dugaan
3. Nikmat
4. Terawih
5. Esok Raya
6. Hari Raya

Upin & Ipin: Setahun Kemudian (2008)
7. Tadika
8. Anak Bulan
9. Adat
10. Tamak
11. Lailatul Qadr
12. Kisah & Tauladan
13. Sayang Kak Ros
14. Ketupat
15. Zakat Fitrah
16. Malam Syahdu
17. Pagi Raya
18. Berkat

Semoga Perseteruan RI dan Malaysia saat ini bukan( sengaja) dipicu oleh pihak-pihak yang hendak mengambil untung dari politik “Devide et Impera” antar sesama Muslim walaupun mustahil rasanya perseteruan tersebut terjadi tanpa ada pihak yang ingin memancing di air keruh!. Bersatulah umat Muslim, eratkan tali persaudaraan, selamatkan anak-anak kita dari kebodohan segelintir manusia yang merasa berkuasa.(Dua Gajah bertarung: Pelanduk mati di tengah-tengah).

Ditulis dalam rangka memperingati hari Kemerdekaan Indonesia; (17 Agustus 1945-2010)

Yang telah diperjuangkan dengan harta dan jiwa oleh umat Islam di seluruh Indonesia.

Oleh: desioktoriana | 11 Juni 2010

Facebooker’s Habbit

Facebooker’s Habbit

Saturday, December 5, 2009 at 2:47pm

Mencermati komunitas facebookers (pengguna facebook) yang sedang mewabah saat ini amatlah menarik. Para facebookers seperti terkena virus yang sangat menular. Gejala paling umum ditandai dengan demam facebook (bila tidak menggunakan FB sehari badan menggigil…).

Wabah facebook ini menjalar dengan hitungan waktu yang sangat cepat keseluruh bagian negara di dunia yang saat ini telah menjangkiti 350 juta orang dan di Indonesia lebih dari 1,4 juta user aktif dengan usia produktif (18-40 thn).

Sebagaimana layaknya sebuah komunitas, pastilah memiliki kebiasaan-kebiaasan (habbits) yang kadangkala aneh dan benar-benar baru. Dalam hal ini ada dua segmentasi besar pengguna fesbuk yaitu kalangan muda dan dewasa.

Dikalangan muda dengan mudah kita jumpai friendlist (daftar teman) lebih dari 500-an bahkan ribuan yang saya yakin banyak dari pertemanan itu di buat tanpa mengenal sebelumnya. Dikalangan dewasapun demikian walaupun agaknya pertemanan lebih dititik beratkan pada kesamaan visi atau kepentingan lainnya misalnya ekonomi dan hubungan sosial (misal: cari jodoh).

Kebiasan-kebiasan yang di bangun facebookers terbagi dalam tiga kategori:
1. Penyampaian identitas,
2. Penggunaan Bahasa,
3. Pertemuan follow up (dikenal dengan copy darat).

Penyampaian Identitas:

Penggunaan foto diri

Bagi pengguna yang benar-benar baru photo diri biasanya dibuat seadanya (asal jepret) tapi kemudian bila pengguna FB sudah punya kepentingan untuk menjaring pertemanan lebih banyak maka mulailah mengganti photo dengan yang lebih cool atau setidaknya dianggap menarik oleh teman lainnya terutama lawan jenis.

Photo-photo yang di pajang memang seharusnya dalam FB mampu menampakkan identitas sebenarnya agar dapat dikenali dengan mudah “Ow..ow…siapa dia?” tetapi karena ini dunia maya memang banyak juga identitas samaran dengan photo yang “nyeleneh” bahkan saya pernah temukan photo yang “menjijikkan” sayangnya tidak ada pak RT atau pak RW yang bisa menegur mereka. Memang FB menyediakan sarana: Report This Photo tapi berapa banyak yang mau peduli?

Penggunaan nama diri

Sebagaimana photo begitu juga nama diri, selain ada nama asli banyak alias atau nama samaran yang dipajang dan nyeleneh. Coba saja di search atau find friends salah satu contoh:

Kembang Sepatu:
28 result dan photonya bukan hanya gadis (kembang) atau kembang beneran tetapi pria denga gaya macho pake moge (motor gede) he..he…
(pemilihan nama Kembang Sepatu ini cuma tiba-tiba saja terpikirkan eh…. ternyata ada juga!)

Kentut Bau:
73 result dan photonya banyak gadis cantik!

Muntah kucing, Kencing Kuda, Mabuk Darat, Mabuk laut dan banyak lagi semuanya ada dan jumlahnya antara 2 sampai 10 hasil pencarian.

Dan yang lebih ajaib saya coba search Orang Gila ada nggak? eh…. ternyata jumlahnya lebih dari 500-an orang! ck..ck…ck…

Penggunaan Bahasa:

Menggunakan bahasa formal dalam komen nampaknya bikin alergip para facebooker bahkan ada yang anti. Coba simak:

Status update:

Aq mau bobo dulu iea….. see ya… bezok! luv u pull…

Qt pgi bareng dunk! temanz-temanz….

It’s a blessing to have you too.. Thxz zo muchz..

ngantuuuknyaa….dah ke 3Xny nge dongeng “Pak Alo dan pengemiss”…dd Sa**** belum mau bubu jugaa….ayuuk bubu seh kaseeppkuu..kasian Pak Alo juga dah nguantuuk tuuuhhh….hoooaaammmmmpph

!! :(

Comment :

hmmmmm …. Pengen ajahhhh … Abiz kurang cihuy update fb nya …. Xixixi

hahaaaaaaaaaaaa kyknya bibirnya hbs di sengat lebah ya……… wkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwk

teh ri** pa kabar ? kangeeeeeeeeeeeeeuuun bgtZ ! hehehehe , , , , ih ni sama ijo-ijo ^_^

Daaangdutttttaaannn ohhhhh nooooooooo……jablayyyy apaaaaaaaaaa trio macannn kiii enakee senggg ngendiiii??!!! Wah yen megal2 megoll jng ditanyaaaaa dweeeeehhhh..sesuai ketukan alunan laguuuu duooonggggg…mantaaafffffhhhhh bgttttttttt wekekkekekekkekkekkkkkkk

Popular Icon:
:):D – ^_^ – ^.^ – @_@ – ^^ – :(

Pertemuan follow up:

Gerakan baru yang jadi kebiasaan yaitu REUNI! dalam waktu tidak lebih dari 6 bulan ini saja saya diundang tidak kurang dari 4 pertemuan reuni SMP, SMA, Kuliah dan kelompok lebih kecil lainnya.

Gerakan lain adalah dukung-mendukung atau became a fan:
- Gerakan sejuta facebookers untuk…….
- Gerakan dua juta facebookers untuk……
- Gerakan anti narkoba
- dll.

Kebiasaan-kebiasaan facebookers di atas bukan sampai di situ saja banyak lagi perubahan pola hidup yang dialami para facebooker aktif diantaranya:

- rajin begadang depan komputer
- rajin tekan tombol HP untuk ngisi status
- malas bergaul karena keasyikan berkencan dengan layar monitor
- Narsis (memuja diri)
- Mudah melontarkan kata-kata banyolan dan hinaan
- banyak juga dari mulai pekerja bawahan, karyawan sampai bos pekerjaannya terbengkalai gara-gara FB
- ibu-ibu rumah tangga lupa waktu untuk keluarga
- sang istri atau sang suami berhaha hihi dengan teman pria atau wanita lainnya baik sekedar berkomentar ataupun dengan menggunakan fasilitas chat.
- anak-anak nagih duit bulanan lebih besar untuk beli HP, pulsa atau bayar internet
- dan banyak lagi…
- dan banyak lagi…….

Sekedar tambahan info boleh juga baca link-link di bawah ini:

http://hubpages.com/hub/The-Social-Networking-Site-Phenomenon-Facebook–Myspace–and-Web-Blogging-habits

http://sophia.dagdigdug.com/archives/273

Tulisan ini belum lengkap mau menambahkan? :)

(Telah ditulis 6 bulan yg lalu)
Oleh: desioktoriana | 30 Mei 2010

Kunjungan Ke SLB-C yang Mengesankan

Tak pernah terbayangkan sebelumnya (barangkali) dibenak anak-anak muridku untuk berhadapan dengan orang yang mereka pikir sangat jauh berbeda keadaannya dibandingkan dengan diri mereka.

Awalnya adalah keinginan kuat memperlihatkan kepada murid-murid bahwa mereka seharusnya banyak bersyukur atas karunia yang telah Allah berikan. Kesehatan jasmani dan rohani, kesempurnaan tubuh dan akal adalah karunia dari Allah yang patut disyukuri, hingga akhirnya saya memutuskan untuk mengajak anak-anak ke SLB-C yang letaknya tidak jauh dari sekolah kami (sekira 10 menit berjalan santai).

SLB-C tempat kami berkunjung merupakan sekolah bagi tuna grahita (anak-anak yang memiliki kelainan/ keterbelakangan mental), memiliki luas lahan hanya sepertiga dari luas sekolah kami. Tidak memiliki fasilitas lengkap hanya ada satu ruang kelas dengan 5 sampai 6 sekat untuk 4 bangku dan satu meja ditambah  kantor dan ruang bermain yang luasnya tidak lebih dari 15 meter persegi. Luas keseluruhan sekira kurang dari 100 meter persegi.

Jumlah muridnya tidak lebih dari 25 orang dengan variasi umur yang sangat jauh berbeda dari umur 7 tahun sampai 20 tahun ada dalam satu ruangan kelas.

Pertama kali datang ke SLB-C, murid-murid sd kelas dua dibariskan dihalaman yang sempit di depan ruang kelas kemudian sebagian dipersilakan masuk dan bertanya kepada guru atau siswa SLB tentang data diri dan kegiatan sehari-hari. yang lain tetap di halaman berkenalan dengan sebagian siswa SLB.

Yang sangat menarik perhatian murid-murid SD adalah pada saat seorang anak bernama Difa yang memiliki keterbelakangan mental memperkenalkan dirinya. Ia mengaku bernama ST 12, pada saat gurunya mencoba memberitahukan bahwa namanya adalah Difa, ia langsung berteriak bahwa gurunya berkata bohong dan tetap mengakui bahwa ia ST 12.

Difa anak berumur 12 tahun tetapi mentalnya tidak lebih dari anak 4 atau 6 tahun. Ketika ditanyakan dimana ia tinggal ia hanya menjawab “Mana kutahu?” . Tetapi ketika disuruh menyanyikan lagu ST 12 ia langsung bersemangat. Pada awalnya ia bersuara lantang kemudian ia hanya menirukan gaya Charly ST 12 (ala lip sing).

Untunglah anak-anak murid SD kelas dua tidak sampai mengatakan hal-hal yang tidak mengenakkan, mereka hanya bertanya mengapa semua murid di SLB tersebut berbeda, setelah diberikan pengertian anak-anak malah mengapresiasi Difa dengan baik, tersenyum dan bertepuk tangan tanda terhibur.

Beberapa anak SD memang ada yang merasa takut dan enggan untuk berbaur tetapi setelah mereka melihat bahwa anak-anak lain berbaur dengan baik (bersalaman, bertanya dan membuat catatan) serta disambut ramah oleh guru-guru SLB akhirnya semua anak bisa menikmati kunjungan mereka.

Manfaat yang kami rasakan saat berkunjung ke SLB sangat besar antara lain adalah “belajar menghargai” bahwa kita semua adalah mahluk Allah yang diciptakan oleh-Nya dengan berbagai perbedaan, “belajar mengenal” diri sendiri bahwa banyak hal yang harus disyukuri, “bersilaturahmi” menjalin persaudaraan dengan sesama, dan “berbagi kebahagiaan” karena adanya rasa saling memberi perhatian dan kasih sayang.

Harapan kami semoga anak-anak SLB C Teratai Sadang Serang Bandung semakin maju dan mendapat perhatian dari pemerintah agar sarana dan prasarananya semakin meningkat.

Bersama Siswa SLB C Teratai

Siswa dan Guru SLB C

Ruang Kelas SLB C

Cerita ini sebuah catatan bagi saya ketika sedang mengajar dan melakukan jeda sesaat untuk sekedar mengetahui pemahaman siswa kelas enam tentang dosa dan amal.

Ibu ingin bertanya pada kalian pernah kalian merasa berbuat dosa dan menyesal atas dosa yang kalian buat? Dan kapan terakhir kali kalian berbuat dosa? (Ini adalah pertanyaan awal yang di berikan kepada siswa dan kemudian secara acak dipilih bebrapa siswa untuk menjawab).

Setelah hening beberapa saat memikirkan jawaban sebagian siswa menggelengkan kepala tanda bahwa amat sangat jarang mereka ingat akan dosa yang mereka lakukan.

Kemudian saya pilih bebrapa siswa untu menjawab dan ini hasil dari jawab mereka:
” Ah bu… nggak ingat saya dosa apa!”
“Apa ya?….. oh ada! pernah saya bandel sama ibu saya sampai bentak-bentak ibu karena nggak kasih uang!”
“Tapi itu sudah lama bu!”
yang lain menjawab…
“Nggak pernah melakukan dosa saya mah bu…!”
Siswa lain pun tampaknya setuju… mereka menganggukkan kepala kemudian tersenyum.

“Baik kalau demikian…” Kata saya sambil balas tersenyum.
“Coba ibu cek satu demi satu, ibu tanya kalian tentang apa yang kalian telah kerjakan hari ini.”

Bu guru : “Ihsan…. apakah hari ini kamu telah shalat Subuh?”
Ihsan : “Belum bu!” (tanpa malu-malu)
Bu guru : “Apakah kamu pikir itu bukan dosa?”
Ihsan : “Iya sih bu…! (jawabnya datar)
Bu guru : “Kemarin kamu shalat Isya?”
Ihsan : “Nggak bu..!”
Bu guru : “Maghrib?”
Ihsan tidak menjawab hanya menggelengkan kepalanya.
Bu guru : “Ashar?”
Dia masih menggelengkan kepala.
Bu Guru : “Dzuhur?”
Ihsan : “Shalat bu! kan shalatnya di sekolah!” Teriaknya gembira.
Siswa lain ikut tertawa tetapi tertawa perlahan karena sebagian besar juga merasa seperti Ihsan banyak meninggalkan shalat.

Bu Guru : “Coba kamu jawab Iqbal, hari ini kamu jajan tidak?”
Iqbal : “Jajan dong bu!”
Bu guru : “Kamu jajan makanan, makannya sambil berdiri, nggak?”
Iqbal : “Eh….. sambil jalan-jalan bu!” katanya tersipu malu.
Bu guru : “Makan sambil jalan itu sebuah dosa atau bukan?”
Iqbal : “Ya… dosa bu guru!”
Bu guru : “Siapa diantara kalian hari ini jajan sambil berdiri atau berjalan?”
Hampir semua anak mengacungkan tangan. Sebagian lagi nampaknya ragu untuk mengakui hanya tersenyum simpul.

Beberapa pertanyaan lain dilontarkan kepada siswa tertentu seperti: kapan terakhir kali mendo’akan kedua orang tua, kapan menolong orang tua? apakah minta ijin/ mengucapkan salam ketika hendak sekolah, dll.
Jawabannya tidak ingat atau sudah lama tidak melakukannya. Padahal diantara siswa yang ditanya ada yang orang tuanya sudah meninggal.

Pertanyaan terakhir: Apakah para siswa mengucapkan basmallah ketika masuk sekolah atau duduk dan membaca hamdalah ketika selesai mengerjakan sesuatu serentak semua mengatakan “Tidak!.

Kesimpulan penting yang bisa saya ambil…. saya sebagai guru telah gagal menanamkan nilai-nilai moral serta keagamaan kepada murid-murid saya. Saya masih berbesar hati karena saya baru mengajar anak kelas enam ini dan sebelumnya tidak pernah saya mengajar mereka.

Saya merasa terpacu untuk terus memperbaiki diri dan tetap mengingatkan kepada para siswa agar belajar untuk menjadi orang yang lebih baik dan berguna bukan sekedar pintar, kaya atau terkenal tetapi membuat orang lain susah atau sengsara seperti yang banyak terjadi saat ini.

Para Ilmuwan dengan titel berderet
hanya mampu membuat keadaan negara semakin kacau

Para hartawan rajin mencari harta dan
menyimpannya dalam gudang-gudangnya
tanpa mau berbagi dan memperbaiki keadaan.

Para tokoh yang terkenal hanya ingin disanjung dan dipuja
tanpa mau memperhatikan betapa mereka tercela
karena menyesatkan dan menyengsarakan orang banyak.

Para pemimpin yang cuma peduli pada
singgasana dan keluarganya
yang membuat rakyatnya semakin menderita.

Oleh: desioktoriana | 15 Mei 2010

BILA CINTA BAGAI SEBUAH TITIK (.)

Jika cinta adalah titik…
Ia memang akhir dari sebuah kalimat
tapi bukan akhir dari sebuah cerita
Ia menyempurnakan cerita.

Setiap titik mungkin harga mati dari satu kalimat
tapi tidak untuk satu jalinan paragraf,
akan ada banyak titik di sana
akan banyak cinta pula…
tak usah sungkan ataupun kecewa.

Cinta pada diri….
Cinta pada ayah dan bunda…
Cinta pada sahabat,
Cinta pada alam….
Cinta pada sang kekasih
dan….
Cinta pada sang Khalik.

Semua cinta itu terangkum di hati…
tapi tak pernah ada kata terlampau banyak…
karena jiwa itu luas…
Mampu menampung air bagai lautan.
Hanya masalah proporsi saja,
siapa yang lebih dicintai.

Dan lain cerita bila titik sudah berkumpul,
……………………………….
maka ia adalah tempat untuk mengisi jawaban.
seperti cinta yang bersatu dalam dada para syuhada…

Demi  tegaknya Khilafah Islamiyah.

Seperti cinta sang bunda,

Demi  kelangsungan hidup putra-putrinya.

Bila titik berada di bawah dalam sebuah tanda tanya (?)

Seperti cinta yang kadangkala dipertanyakan.

Bila titik dalam sebuah tanda seru (!)

Seperti cinta yang juga butuh penegasan.

Lain hal bila titik ada pada sebuah hurup,

Ia mampu membedakan dan membuat perbedaan.

September, 2009

Oleh: desioktoriana | 13 Mei 2010

NEGERIKU BERKABUNG

Negeri ini sedang berkabung…
Rakyat jelatanya tampak murung,
Pengangguran menggunung……
Kemiskinan menggulung…….

Negeri ini sedang limbung….
Para pemimpinnya hanya sekmpulan orang bingung,
yang hanya siap jadi kacung
buat… negara-negara lain yang hanya ingin cari untung.

Duhai…. saksikan si Adikuasa memborong emas kita berkarung-karung!
Minyak kitapun dilalap habis sampai mereka kembung!
Hutang kita saja ditunggak tak terhitung!
Tapi apa mau dikata begitulah semuanya berlangsung…

Negeri tetangga hanya bilang kita cuma kampung,
yang bisa menyediakan babu yang siap di pentung!
Jika macam-macam hukum pancung atau gantung…
Cuma satu atau dua orang yang bisa lolos jika beruntung..

Ada lagi negara kecil sepuntung
besarnya tak lebih dari seperlima pulau Belitung
tapi… dengan mudah dada mereka membusung,
kemarilah kalian berbelanja kita diskon seharga warung!

Duhai….Negeri ini persis seperti ayam mati di lumbung
Tanahnya kaya tapi rakyatnya menderita busung….
Bisanya cuma makan aking atau gadung
paling untung dapat lauk ikan kembung yang benar kembung!

Jadi apa kelak negeri ini bersambung?
Apa bencana alam itu akan mulai merubung?
Ekonomi negeri ini makinkah terkatung?
Kasihan rakyat kini makin bingung dan limbung!

Hayolah kawan…. siaplah bertarung
setidaknya selamatkan anak cucu si upik dan si buyung
berdo’alah agar kita terlindung…
dari para munafik yang menggerogoti negeri ini… bung!

BANDUNG, 9 JULY 2009
November 20, 2009 at 3:17pm

Pemulung atau FBI?

Oleh: desioktoriana | 12 Mei 2010

Belajar (bukan) di Ruang Kelas.

Bermain Sambil Belajar

SDN NEGLASARI 1 DAN 3 wroteon January 9, 2010 at 12:18am

Ruang kelas memang bagian yang tidak terpisahkan dari proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM). Setiap guru memiliki mindset bahwa kelas adalah tempat belajar dan belajar jauh dari kata ” bermain”. Apabila ada anak-anak yang bermain-main di dalam kelas sudah bisa dipastikan dia ditegur bahkan diberi hukuman apabila tetap tidak mengindahkan teguran.

Kata bermain sambil belajar tentu bukanlah bermain-main seperti yang dilakukan anak yang ditegur guru…. akan tetapi permainan dengan beberapa aturan yang menyenangkan dan tidak serta merta mengganggu teman atau siswa lainnya. Bermain menjadi kunci agar pelajaran lebih mudah dimengerti tanpa ada beban psikologis siswa untuk menghafalkan atau sekedar harus ingat.

Permainan dalam belajar bukan hanya dapat dilakukan di ruang kelas tetapi di setiap tempat yang memungkinkan melakukan proses KBM dengan aman seperti halaman sekolah, lapangan upacara, perpustakaan, taman dan bahkan lingkungan sekitar sekolah.

Lingkungan sekitar sekolah bisa saja berupa taman didekat sekolahan atau bangunan yang memiliki halaman yang luas. Bila dekat dengan lokasi pasar tradisional atau moderrn itu juga bisa menjadi tempat pembelajaran banyak hal seperti belajar berhitung, belajar jual beli, belajar sosialisasi dst.

Di Lokasi SDN Neglasari 1 dan 3 banyak lokasi yang bisa dieksplorasi yaitu: pasar tradisional, terminal angkot dan toko matrial. Anak-anak kelas satu dan dua cukup beruntung dapat ikut serta dalam bereksplorasi bersama guru bahasa Inggris pergi ketempat-tempat tersebut dalam jam pealajaran tanpa harus mengeluarkan biaya sepeserpun karena dapat ditempuh dengan berjalan kali pulang pergi selama kurang lebih 15 menit.

Anak-anak menemukan kesenangan tersendiri dengan belajar diruang terbuka selain ruangan kelas. Mereka malah lebih mudah untuk berkonsentrasi mendengarkan perkataan guru dan berinteraksi dalam belajar mengenal benda-benda yang ada disekitar.

Belajar di Toko Bangunan

Dimuat di link:

http://www.facebook.com/profile.php?id=100000124254885&v=info#!/profile.php?id=100000124254885&v=app_2347471856

Oleh: desioktoriana | 12 Mei 2010

Perpustakaan Jantungnya Sekolah!

Bukan main!!! Acungan 2 jempol (two thumbs up) untuk perpustakaan Sekolah Alam Bandung. Baru kali ini saya menemukan sebuah sekolah (sekolah dasar) yang perpustakaannya padat setiap waktu!

Seperti darah yang mengalir ke jantung… para siswa (eritrosit) dan guru-guru (leukosit) bahkan orang tua siswa (trombosit) mengalir datang dan pergi mengisi jantung (perpustakaan). Darah tersebut meski memiliki fungsi yang berbeda akan tetapi memiliki satu tujuan dalam hal ini membaca!

Yang lebih istimewa lagi siswa yang meminjam buku di sekolah alam yang paling banyak adalah TK (usianya berkisar 4-6 tahun), sungguh sebuah kesadaran yang sangat dini untuk membuka pintu dunia (buku-red).

Biasanya untuk sekolah yang berbudget (dana) tinggi atau sekolah konvensional lainnya untuk buku-buku di perpustakaan selalu memilahkan buku-buku “mahal” dalam lemari kaca yang tidak sembarang orang boleh sentuh dan baca, akan tetapi di Sekolah Alam Bandung setiap buku dipersilakan untuk dibuka dan dibaca meskipun buku-buku tersebut harus mengalami kerusakan semisal lecet dan sobek!

Salam salut untuk pustakawati kita ibu Mira yang selalu setia berada di perpustakaan meski jam kerja sudah lewat. Terima kasih karena mengijinkan orang tua untuk meminjam buku-buku tanpa memakai aturan yang berbelit.

Satu hal lagi…

Untuk para trombosit eh… orang tua siswa yang peduli dengan kemajuan anak-anaknya di sekolah alam please… perpustakan selalu terbuka untuk menerima buku-buku yang bermutu dari anda untuk kami baca, baca dan baca.

Salam manis dari Ortu Saakina SD 3.

Dimuat di link:

http://sekolahalambandung.com/2007/04/perpustakaan-jantungnya-sekolah/

Tulisan Sebelumnya »

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.